Jumat, 01 Oktober 2010

Petualangan di Negeri 'Arudl

MENUNGGU

Kecewa, kecewa, kecewa. Bertumpuklah mereka, kekecewaan di pundakku. Pertama, aku ditolak mentah-mentah oleh si Siska. Putri sulung bos bibit minyak wangi itu dengan nada begitu kasar menyatakan, ogah gue kawin ama cowok kere kaya elo. Sakit sekali rasanya dihardik oleh seorang gadis cantik meski aku sadar rasa sakit itu tak boleh ada dalam hati.

Setelah sembuh dan kembali tumbuh rasa tak putus harapan, dengan langkah kubuat gagah, aku pun kembali berpetualang mencari calon istri solehah. Tapi kali ini, kupasang warning dalam benakku agar lebih selektif. Hati-hati, hindari cewek matre meski kece naudubile.

.Satu minggu, dua minggu belum juga ada bidikan. Tenang, Yahya. Biar lambat asal dapat yang mengkilat, bisikku sendiri memberi rasa tetap semangat. Dan, benar juga kata pepatah, من جد وجد . atau kata Ibu Kartini, habis gelap terbitlah terang. Rupa-rupanya, aku akan segera kehabisan gelap dan harus bersiap-siap menjadi orang paling bahagia, penganti baru.

“kamu serius suka sama si Karmila?” tanya Abi dengan mimik wajah cerah pertanda responsif membuatku semangat.

Saking semangatnya, pertanyaan Abi ini tak kujawab dengan lisan. Aku malah berlari mengambil karton dan gunting. Secepat kilat karton kupotong-potng membentuk huruf-huruf yang akan terangkai menjadi kalimat. Setelah lengkap, kuambil lem lalu kutumpakan di pintu kamar. Kemudian tanpa menunggu kering, huruf-hurf tadi kutempel sehingga tampak nyata sebuah tulisan, SAYA SERIUS PENGEN NIKAH SAMA KARMILA

Melihat tingkah yang agak nyeleneh ini, Abi menjadi lebiih tanggap merespon keinginanku. Terbukti, selang dua hari Abi dan Umi sengaja silaturahmi ke rumah orang tua karmila. Dirumah, aku berharap-harap cemas. Mudah-mudahan diterima, mudah-mudahan jodohnya. Mudah-mudahan jombloku segera berakhir. Pokoknya hampir setiap detik dari masa menunggu pulangnya Abi dan Umi ini kuisi dengan doa-doa, bahkan sssst… jampi-jampian.

Satu jam kemudian, bisul dibokongku serasa akan pecah, tegang, cekot-cekot, gimana Bi? Gimana, Mi? diteriama tidak? Untung saja pertanyaan-pertanyaan ini tak sampai terlontar dari bibirku. Jika jebol, mungkin kecewaku tak mudah kututupi saat menedengar mereka berkata dengan nada kecewa, kamu harus cari gadis lain.

Episode demi episode berlanjut. Entah sudah berapa kali kecewaku hingga akhirnya aku bertemu denagannya. Mungkin Allah sudah mulai kasihan padaku lalu mempertemukanku dengan gadis manis ini. Tatapannya lembut, hidungnya bangir, bibirnya wah…pokoknya begitulah. Hanya satu yang disayangkan,. Ia mengidap penyakit gila, GILA ILMU.

Tapi berhubung suka, aku pun memaksa diri ikuti gaya. Pakaian harus selalu nyantri alias pake sarung pake peci. Malam minggu tidak ada wakuncar. Karena putri seorang Kyai tak suka di wakuncarin, untuk mengimbangi obrolannya, aku harus rela berlama-lama duduk dengan kitab kuning meski kepala pusing.

Positif, pacaran dengan si Najma memamng banyak berkahnya, ledek si Poltak saat aku kedapatan memanggul kitab hendak berangkat ke majlis.Aku hanya balas senyum menutupi khawatir, setiap hal yang indah mesti menyimpan gelisah. Ya, satu tahun sudah aku dekat dengannya, tapi tanda-tanda aku disambut orang tuanya belum juga ada. Gamang, serasa dipersimpangan.

Puncaknya, saat semua sudah gamblang, kami saling cinta, sudah sama siap menjalin kata setia, aku dipanggil abahnya untuk mendengarkan satu rangkai kalimat saja. satu kalimat tanya yang menjebol mental yang susah payah kubangun, satu kalimat yang seakan ribuan tawon ngamuk dan membuatku sibuk menyelamatkan diri.

Dengan penuh kelembutan, kyai sepuh itu mengelus pundakku, kepalaku, seakan ia benar-benar memberikan perhatian. Pertanyaan darinya takan pernah kulupakan dan akan kujadikan sebagai pelecut bahwa memang untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan kita butuh kesabaran, kekukuhan. Mungkin begini ulasannya jika aku husnudzzon atas jawaban dari pengajuanku kepadanya.

Jika tidak, maka pertanyaan tersebut ibarat pil tidur yang membuatku mendengkur hingga dengan mudahnya aku ia kubur. Enam kata itu telah cukup membuatku was-was dan harapan semakin tercampur cemas.

“Menurut Neng, itu bukan penolakan”, ucap Najma tak setuju pada tafsiranku atas jawaban abahnya.

“Lalu?”

“Terserah Kak Yahya, siap atau tidak menunggu Neng lima tahun lagi?”

Aku diam entah. Lima tahun menunggu bukanlah hal mudah. Disana, aku akan disuguhi rasa resah, gelisah oleh tak kunjung menikah.

Pertanyaan lembut, siapkah kamu menunggu lima tahun lagi?, kembali terngiang siang ini. Kemana harus kucari jawabannya jika bukan dalam kesiapan diri. Lima tahun, hanya lima tahun Yahya. Ya hanya lima tahun. Sebentar,sungguh waktu yang teramat sebentar untuk menjelajahi negeri impian arudlku. Negeri yang memiliki enam belas lautan terindah yang membuat wiastawan manapun selalu tergerak untuk datang lagi dan lagi. Negri yang kaya seni apalagi seni menyanyi. Negri yang di temukan oleh sang penjelajah, Imam Kholil bin Ahmad al-Farahidi.

Segera kuraih handphoneku, “najma aku siap menunggu”.

“Betulkah?”

“Tapi aku menunggumu disana.”

“dimana?”

“Di negeri arudl”.

Najma diam. Aku tahu apa penyebabnya meski aku tak mengusik diamnya. “Kak,” suaranya melemah, “Kakak tak mau mengajakku kesana?”

“Abah tak akan mengizinkanmu. Lagi pula perjalanan kesana tak mudah ditempuh.”

“Aku akan memaksamu untuk mengajakku.”

“Jangan, Najma. Abahmu bisa marah besar jika tahu anak gadisnya dibawa kabur oleh pemuda super nganggur begini.”

“Ya, kalau tidak boleh ikut, aku bisa berangkat kesana sendiri.”

“Sendiri? Memangnya berani?

“Memang takut apa?”

Weh, belum tahu. Negeri Arudl itu tingkat kesehatan penduduknya rendah. Boleh dibilang jorok-jorok, sehingga mudah terserang penyakit.”

“Wabah?”

“Tepat sekali. Disana, namanya penyakit sudah dianggap saudara. Zihaf Mufrod, Zihaf Muzdawij,’ Ilal Ziyadah,’ Ilal Naqis, sangat-sangat sulit dihindari.”

“Pokoknya, aku akan tetap kesana. Kalau boleh ikut, aku ikut. Kalau tidak boleh aku berangkat sendiri, titik.”

Aku diam sejenak, “begini saja” timpalku coba membujuk, “kamu jangan ikut, apalagi berangkat kesana sendiri. Aku janji akan membawakan 16 mutiara dari tiap lautnya.”

“Betul, Kak?” tanya Najma antusias.

“Ya”

“Kalau aku rindu?”

Aku diam sejenak, “kamu boleh telpon aku”

“Baiklah, terimaksih, Kak. Aku akan berusaha mempercepat masa penantianmu”

“Terimakasih juga. Tak usah dipercepat yang penting selamat, bukan?”

Kang Ahmad

Sesuai rencana, sore ini aku berangkat ke kediaman Kang Ahmad untuk memohon petunjuk tentang rute ke negeri Arudl.

“Benar nih, kamu mau kesana? Bukannya kemarin kamu bilnag mau ke Ciranjang?” singgung Kang Ahmad tentang rencana menikah yang pernah aku utarakan.

“Iya, kang. Saya ingin punya pengalaman di negeri asing.”

“Kamu siap bergaul dengan lingkungan yang maniak nyanyi?”

Siap tak siap, saya sudah nekad.”

Kang Ahmad tampak menarik nafas sebelum mengambil sebuah peta. “Jika kamu mampu memahami peta ini, kamu akan berhasil menjelajahi 16 lautan di negeri arudl,” janjinya yakin.




“Ada empat pintu masuk?” tanyaku setelah Kang Ahmad sedikit menjelaskan peta butanya.

“Yang saya punya Cuma empat ini. Sebetulnya masih banyak pintu lain, tapi saya tidak memiliki petanya.’

“Yang paling mudah lewat mana, Kang?”

“Lewat gua Kafi” telunjuk Kang Ahmad maju. “Jika kamu mendaki gunung Khozroji, kamu akan lelah, sementara jarak ke pulau Zihafat cukup jauh, belum lagi ke pulau Ilal. Apalgi jika lewat gerbang Melayu atau pintu Qibti,” ulas Kang Ahmad.

“Apakah akan ada yang memandu saya di gua Kafi?” tanyaku mulai tegang membayangkan suasana asing.

“Ada, begitu kamu memasuki gua itu, seorang tua bernama Mbah Qonai akan memandumu.”

“Aku tegang, Kang”, keluhku jujur.

“Ha..ha..ha.. tenang saja, sih. Di negeri Arudl tidak ada kesedihan, tak pernah ada kejahatan. Penduduk disana selalu riang berdendang. Hanya saja, kamu harus benar-benar lolos dari dua pulau penyakit, Zihafat dan Ilal. Meski penuh penyakit, penduduk disana saling peduli, sehingga, orang-orang sakit disana tak merasa sakit karena biaya pengobatan murah bahkan banyak yang gratis. Berbeda dengan negeri ini, disini, orang miskin dilarang sakit sebab orang-orang kayanya berhati sempit. Rumah Sakit tak lebih dari tempat penyembuhan yang timbulkan penyakit baru bagi masyarakat tak berduit. ”

“Kapan saya bisa kesana?”

“Terserah kamu, yang terpenting siapkan suara dan mental bernyanyi, itu saja.”

“Suaraku sumbang” keluhku

“Disana, banyak Doel-Doel Sumbang atau Iwan-Iwan Fals, jadi tak usah minder.”

Semangatku sedikit menyala dan ada sedikit rasa tak sabar ingin segera bertatap muka dengan juru kunci gua Kafi, Mbah Qonai. Seperti apakah beliau? Seramkah atau ramahkah?

“Apakah disana ada juga kaum hawa?” ups, aku kelepasan bertanya.

Tatapan Kang Ahmad menyelidik membuatku grogi menunggu di semprotnya.

“Jangan coba-coba bermain cinta disana,” nada Kang Ahmad serius, “gadis-gadis negri arudl manis-manis sekaligus bengis. Sekali kamu terjerat, kamu akan habis.”

“Habis?”batinku tak mengerti tapi terlanjur dibuat penasaran oleh larangannya.

“Sekarang, pulanglah. Persiapkan segalanya untuk berpetualang disana. Lebih cepat pulang, lebih baik.”

“Baik, Kang. Terimaksih banyak atas segal petunjuknya,”

“Tak usah berterimaksih. Ini adalah tugas saya.”

GUA KAFI




Dimulut sebuah gua aku terpaku, gelap. Tak ada siapa yang bisa kutanya. Apa aku harus masuk saja, tanyaku sendiri ragu-ragu. Tidak, aku khawatir didalam sana ada binatang buas, bisa mampus aku.

Aku membalikkan badan, tengok kanan kiri barangkali kutemukan tanda atau apapun yang bisa membantu. Sepi, aku hanya sendiri dihutan ini. Ah, berakhir sudah ceritaku hingga kebuntuan ini. Tidak. Aku tak boleh putus asa. Aku yakin inilah gua yang akan membawaku ke negeri impian, arudl’, negeri penuh keriangan, nyanyian, tak ada kegelisahan, cemberut.

“Hoi”

Aku terperanjat. Suara serak sekonyong-konyng muncul dari dalam gua.

“siapa?” tanyaku.

“Sedang apa sendirian di hutan arabi ini?”

“Aku mencari gua Kafi”, teriakku berharap ia bisa membantu.

“Mau apa?” nada tanyanya berganti menyelidik.

“Aku mau ke negeri arudl,” timpalku yakin.

Tak ada yang menyahut. Akupun celingukan lagi hingga suara itu kembali terdengar memberi perintah, “masuklah”

Aku coba mendekat, melongokkan wajah kedalam gua, “Masyaallah” bibirku spontan berkata saat benar-benar terpana oleh pemandangan di dalam sana yang tak sama sekali kuduga. “Masuklah,” sekali lagi suara itu memerintah.

Akupun menurut masuk.

“Duduklah” ucap si pemilik suara saat aku tiba didalam gua. Akupun bertawarruk dengan kepala tertunduk.

“Siapa namamu?” tanyanya tegas.

“Yahya,” jawabku lirih.

“Dua suku kata, terdiri dari dua sabab khofif.” timpalnya kemudian menyerahkan dua tambang pendek.

“Untuk apa?” tanyaku

“Ini simbol dari namamu, yah dan ya.”

“Simbol?’

“Ya, penduduk dinegeri arudl punya simbol masing-masing.”

“Aku belum mengerti.”

“Belum, nanti juga mengerti. Ayo ikut.”

Pak Tua itu masuk ke ruangan dalam dan aku membuntutinya dibelakang dengan penuh tanda tanya.

“Bersiap-siaplah,” ucapnya saat kami tiba diujung gua yang suguhkan pintu keluar.

“Inikah jalan menuju negeri arudl?”

“Betul, dan aku hanya boleh mengantarmu sampai di sini.”

“Lalu?”

“Setelah kamu keluar dari pintu ini bererti kamu telah memasuki negeri baru. Negeri yang tidak sama dengan negeri kita. Disana, kamu harus aktif, rajin bertanya jika ada yang tak dimengerti, bergaul dengan mereka penduduk negeri dan jangan pernah menyendiri.”

“Bagaimana jika aku tdak betah disana?”

“Kau akan pulang dengan tangan hampa. Disamping itu, sesalmu tiada terkira hingga suatu saat kamu akan merasa ingin kembali mengunjunginya.”

Pak tua menepuk-nepuk dadaku seakan berkata, kau harus bisa membawa pulang 16 mutiara dari 16 lautan di negeri sana. Lalu, “ keluar dan masuklah ke negeri arud”, teriaknya sambil mendorongku keluar pintu gua.

Aaaaaaaah…

YANG HIDUP DAN YANG MATI

Teriakanku mengundang perhatian penduduk di negri arudl. Mirip bayi yang baru terlahir, aku disambut hangat oleh mereka.

“Wah, ada bangsa manusia datang,” teriak salah satu dari mereka yang ternyata berupa kasur.

“Makhluk terbaik ciptaan Tuhan,” timpal yang lain yang ternyata berupa meja.
”Betul. Konon katanya mereka bisa lebih mulia dari bangsa malaikat,” bisik si Karpet pada Kursi yang menginjaknuya.

Hei, inikah penduduk negri arudl? Benda-benda mati di negeri ini bisa berkomunikasi layaknya manusia? Ah, absurd. Apakah aku sudah mulai gila? Tidak. Aku masih waras.

“Siapa namamu, manusia?” tanya lemari menghampiriku.

“Yahya” jawabku setengah hati.

“Jangan congkak, kau”, hardik si sapu sambil njenggung kepalaku. Kami memang benda mati, tapi kami bisa menghidupi yang hidup”, lanjutnya sewot.

“Betul. Disini kamu tak boleh sembarangan bicara meski hanya dalam hati saja. Sebab, kami lebih waspada dan bisa mendengar semuanya,” dukung si kardus besar.

“Karena kamu tergolong benda hidup,” kali ini si kasur bicara lagi, “kamu harus bisa bergaul dengan benda mati sekalipun, berbeda dengan kami. Kami sesama benda mati hanya bisa saling diam memandang. Tapi dengan benda hidup kami bisa bersuara,”lanjutnya.

Aku masih belum sanggup berkata apa-apa. Bagaimana ini semua bisa terjadi? Dinegeriku, orang bercakap-cakap dengan sesamanya saja masih sering dicurigai macam-macam. Apalagi dengan benda mati, jelas-jelas sinting bin gendheng bin edan.

“Heh”, hardik si sapu lagi, “kamu bisu?” lanjutnya kasar membuatku gemetar.

“Aku bingung,” jawabku jujur sambil menutup muka.

“Bingung?” serempak semua bertanya lalau terbahak, “ha..ha..ha..ha..ha..

“Manusia bodoh” hardik si sapu lagi tetap kasar.

“Ada berapa huruf mati dalam namamu? Satu bukan? ح . Apakah huruf mati tersebut bersuara tanpa ada huruf hidup? Atau berapa huruf konsonan pada namamu? Tiga bukan? Apakah ia bisa bersuara tanpa ada huruf vokal?”

Aku terhenyak. Benda mati = huruf mati. Benda hidup = huruf hidup.

“Kau?” tanyaku pada sapu tentang sebutannya.

“Dua huruf hidup atau dua konsonan dan dua vokal”

“Kau?” tanyaku pada lemari.

“Tiga huruf hidup atau tiga konsonan dan tiga vokal”

“Apa maksud ini semua?” teriakku mulai kesal pada keabsurdan ini.

“Ini negeri arudl, Yahya. Semua kata harus di timbang huruf hidup dan matinya,”jelas si kasur.

Sejenak aku diam. oooh, ucap batinku kemudian.

“Dua huruf, satu hidup satunya mati atau satu suku kata disebut sabab khofif. Dua huruf hidup atau dua suku kata disebut sabab tsaqil. Tiga huruf, dua hidup dan satu yang terakhir mati atau dua suku kata dengan tiga konsonan disebut watad majmuk. Tiga huruf, dua hidup dan satu yang ditengah mati atau dua suku kata dengan tiga konsonan disebut watad mafruq. Gabungan sabab tsaqil dan sabab khofif disebut fashilah sughro. Gabungan sabab tsaqil dan watad majmuk disebut fashilah kubro,” panjang lebar si lemari berceramah.

Oooh, jadi namaku, adalah dua sabab khofif.

“Lihat kemari,” teriak si Whiteboard padaku dari jauh lalu membusungkan dadanya yang tampak bertuliskan, لم ار علي ظهر جبل سمكة.

Apa maksudmu? tanyaku pada si Whiteboard.

“Inilah gambaran yang tadi diulas oleh temanku itu,” jawabnya sambil menunjuk si Lemari.

Sabab khofif, tsaqil, watad majmuk, mafruq, fasilah sugro dan kubro”, sahut si kasur dengan lembut menyebut secara urut nama dari gambar yang di busungkan si whiteboard.

“Berarti tanwin dihitung dua huruf?”, tanyaku setelah sejenak berpikir.

“Betul. Di negeri kami tidak ada tanwin, dan tasydid. Yang ada hanyalah huruf hidup dan huruf mati. Maka tanwin harus dianggap nun sukun dan tasydid dianggap dua huruf, satu mati satu hidup.”

“Lihat ini,” terdengar si Whiteboard kembali teriak sambil menunjukkan tulisan didadanya lagi, جبل dengan tanwin harus ditulis جبلن , dan محمد dengan tasydid mim harus ditulis dua mim,محممد mim pertama sukun dan yang kedua berharkat.

“Ini namanya potongan-potongan irama atau disebut تقطيع, di negeri kami huruf-huruf yang digunakan untuk ini berjumlah sepuluh,” tuturnya lalu menghapus tulisan didadanya dan menunjukkan tulisan yang baru, ل م ع ت س ي ف ن ا.

“Faham belum?” kali ini si Sapu mendekat dengan tanya kasarnya.

“Mudah-mudahan, Pu,” sahutku sedikit terpaksa takut di thuthu’.

Yo wis cukup, Rek”, komando si Kasur pada teman-temannya, “si Yahya ini kita izinkan untuk masuk ke pulau penyakit, Zihafat dan ‘Ilal,”lanjutnya disambut anggukan setuju.

Akupun diarak sepasukan benda mati aneh menuju pantai untuk kemudian diseberangkan ke pulau Zihafat dan ‘Ilal.




PULAU ZIHAFAT

Keteganganku dinegeri arudl sedikit berkurang. Bukan apa-apa, suasana asing disini ternyata tak terlalu membuatku pusing. Mereka penduduk majemuk negeri ini selalu bersikap ramah apalagi kepada para pelancong mancanegara. Buatlah semua orang senang bahagia, begitulah agaknya motto yang dicanangkan para pembesar negeri arudl ini. Bagaimana tidak? Sebelum diseberangkan ke pulau Zihafat, empat tokoh dari mereka berikut para putra mahkotanya mengantarkanku hingga naik ke kapal.

Dengan senyum selalu merekah Mrفعولن, Mrمفاعيلن, Mrمفاعلتن, dan Mr فاع لاتن menasehatiku, ingatlah pada kaidah asal biar hidupmu tidak asal-asalan. Kami berempat selalu memegang aturan untuk mengawali diri dengan watad. Makanya kami diangkat menjadi sesepuh disini.”

Begitu pula Mrلن فعو atau biasa disapa Abang فاعلن , anak tunggal Mr فعولن, Mr عيلن مفا atau biasa disapa Akangمستفعلن, anak pertama Mrمفاعيلن, Mrلن مفا عي, atau biasa di panggil Akangفاعلاتن anak kedua Mrمفاعيلن, Mr علتن مفا atau biasa disapa Aaمتفاعلن anak tunggal Mrمفاعلتن karena anak keduanya yang bernamaتن مفا عل meninggal dunia. Mrتن فاع لا, Mrلاتن فاع pun tak ketinggalan mengiringku bersama empat saudaranya yang lain.

Keramahan mereka berenam sungguh terkesan dalam, apalagi saat mereka memaksaku untuk menerima hadiah dari mereka. Padahal, siapa sih yang mau menolak hadiah? Sungguh solidaritas yang akan selamnya membekas. Di negeriku sendiri, solidaritas semacam ini telah lama memudar atau mungkin sekarang telah mencapai titik punahnya karena di serbu oleh spesies baru yang bernama MasingMasing, atau kadang bernama GueGueEloElo.

Sebelum berangkat sang ketua I, Mr فعولن berbisik, “di pulau Zihafat dan Ilal nanti kamu akan menemukan jelmaan-jelmaan kami dalam bentuk yang tak lagi sempurna.”

“Apakah mereka sama menjadi pemimpin seperti kalian?”

“Ya, dan tentunya karena mereka tak sempurna rakyatnya pun tak sempurna.”

Akhirnya setelah usai acara pelepasan, aku pun berangkat dengan kapal layar kuno menuju pulau yang membuatku bergidik membayangkannya, pulau penyakit, hih menakutkan.


Benarlah, jangan terlalu dalam membayangkan sesuatu yang belum terjadi, belum kita alami, belum kita singgahi. Biasa-biasa saja, tidak mengebu-gebu jika baru konon katanya menyenangkan atau tak usah terlampau cemas jika baru katanya menakutkan. Buktinya, apa yang kubayangkan tentang pulau Zihafat sama sekali tak terbukti. Bayangan pulau angker yang punya banyak binatang buas atau mungkin penyamun-penyamun tak kutemukan. Yang terjadi di sini adalah perasaan yang terliputi iba.

Bagaimana tidak? Pulau ini tak lebih dari sekedar penampungan makhluk-makhluk sakit. Meja, kursi, lemari, karpet, kasur, pohon apel, pohon jambu, kucing, kambing, anjing, semuanya mahkluk jenis apapun di sini tak ada yang sehat. Mereka cacat, sakit dengan berbagai macam penyakit. Si kursi di pojok ruangan ini pincang. Jika aku memaksa duduk maka pasti aku njengkang. Si meja di kantor banyak mengandung kuman-kuman aneh sehingga bila ada yang meletakkan sesuatu di atasnya, spontan sesuatu itu habis dalam sekejap. Si kucing tiga warna, cantik. Tapi waktu kulihat punggungnya, cih! menjijikkan. Korengan dengan jenis koreng yang super menyedihkan, belatungan.

“Di sini kita harus belajar peka,” kata dokter Mufrod, dokter spesialis zihaf yang biasa menangani delapan warna penyakit.

“Pasien saya,” lanjutnya, “kebanyakan orang-orang miskin yang tak punya biaya untuk berobat.

No

Penyakit

Gejala

1

خبن

Kehilangan huruf kedua yang sukun

2

اضمار

Matinya huruf kedua yang berharokat

3

وقص

Kehilangan huruf kedua yang berharokat

4

طي

Kehilangan huruf keempat yang sukun

5

قبض

Kehilangan huruf kelima yang sukun

6

عصب

Matinya huruf kelima yang berharokat

7

عقل

Hilangnya huruf kelima yang berharokat

8

كف

Kehilangan huruf ketujuh yang sukun

“Kalau boleh tahu, bagaimana cara anda menangani penyakit-penyakit ini?” tanyaku sopan.

“Setiap pasien akan kami deteksi lima hingga tujuh organnya, tapi bisa dipastikan hanya organ kedua, keempat, kelima dan ketujuh saja yang terkena penyakit. Barusan saya menangani anak ibu Alfiyyah yang mengeluh perutnya sakit. Saya deteksi sel-sel matinya atau yang masih hidup atau yang hilang. Ternyata قال محم = ○││ │○│, jelas ada sel mati yang lenyap akibat penyakit طي, maka saya mengambil obat sesuai dengan penyakitnya ○│││○│=مفتعلن . Sebetulnya jika anak ibu Alfiyah ini tidak sakit maka kondisinya adalah ○││○│○│=مستفعلن

“Kalau penyakit khoban?”

“Wah, kasihan mereka yang menderita ini, penglihatannya kurang. Lihat saja gaya jalan si munfarijah yang sering nabrak.

“Maksud saya pengobatannya, dok.”

“Sama saja. Kita deteksi dulu lalu kita beri dosis obat sesuai usia dan kondisi tubuhnya.”

“Neng Munfarijah tadi?”

Dia mestinya bertimbangan فاعلن =○││○│, karena ada penyakit khoban maka jadi فعلن = ○│││.

Apakah mungkin satu pasien mengidap lebih dari satu penyakit?”

Tentu saja. Banyak pasien saya yang saya kirimkan ke dokter Muzdawij untuk di rawat di sana.”

“dokter Muzdawij?”

“Ya, beliau dokter spesialis komplikasi”

“Di mana beliau praktek, dok?”

“Sama, di RS Zihaf juga. Cuma dia ada diruangan kedua, dibelakang ruangan saya ini.”

“Oh iya dok, kalau boleh, saya ingin melihat photo pasien yang anda tangani menderita delapan macam penyakit ini.”

“Boleh,” sahut dokter Mufrod seraya menyerahkan album berukuran besar.

Kuperhatikan satu persatunya.

1

خبن

مستفعلن = ○││○│○│ → متفعلن= ○││○││

فاعلاتن = ○│○││○│ →فعلاتن = ○│○│││

فاعلن = ○││○│ → فعلن = ○│││

مفعولات = │○│○│○│→ معولات =│○│○││

مستفع لن =○│ │○│○│→متفع لن =○│ │○││

2

اضمار

متفاعلن=○││○│││→ متفاعلن=○││○│○│

3

وقص

متفاعلن=○││○│││→مفاعلن=○││○││

4

طي

مستفعلن=○││○│○│ →مستعلن=○│││○│

مفعولات=│○│○│○│→ مفعلات=│○││○│

5

قبض

مفاعيلن = ○│○│○││ → مفاعلن= ○││○││

6

عصب

مفاعلتن = ○│││○││ → مفاعلتن= ○│○│○││

7

عقل

مفاعلتن = ○│││○││→ مفاعتن= ○││○││

8

كف

مستفعلن = ○││○│○│ → مستفعل= ││○│○│

“Kasihan mereka, dok”, air mataku menitik.

“Ya, inilah kehidupan. Kita yang sehat harus mau peduli pada mereka yang sakit. Saya merasa senang praktek di negeri ini, sebab, tanggung jawab saya selaku seorang dokter benar-benar dituntut.”

Kulihat dokter Mufrod sudah tampak lelah padahal sebetulnya masih banyak yang ingin kutanyakan. “Dok, saya rasa anda perlu istirahat. Terimakasih banyak atas bincang-bincangnya”, ucapku undur diri.

“Tidak apa-apa, saya senang ada pemuda yang peduli pada keadaan sekitar, apalagi mengenai kesehatan.”

DOKTER MUZDAWIJ

Sepulang dari Dokter Mufrod aku segera bertandang ke tempat praktek dokter Muzdawij. Singkat padat cepat, begitulah gaya beliau menjelaskan semua yang kutanyakan. Saat kutanyakan apakah penyakit-penyakit yang beliau tangani tergolong kategori berat. Beliau menjawab, asalkan kita sudah memahami praktek-praktek yang dilakukan dokter Mufrod maka mudah menangani penyakit saya. Jadi, tak termasuk berat bila di bandingkan dengan penyakit yang ditangani oleh dokter Ziyad dan dokter Naqs di RS ‘Ilal.

Mendengar ini, aku pun sekalian meminta penjelasan lebih jauh mengenai penyakit yang beliau sebutkan lebih berat tadi, biar tak repot datang ke RS ‘Ilal segala, pikirku. Dan dengan senang hati beliau membeberkan semua meski tak ada gambar-gambar pasiennya yang boleh kulihat, kasihan sama kamu, takut tidak tahan melihat penderitaan mereka, ujar beliau .

Penyakit Komplikasi Muzdawij

1

خبل

خبن + طي

2

خزل

اضمار + طي

3

شكل

خبن + كف

4

نقص

عصب + كف

3 Penyakit yang ditangani dokter Ziyad berikut gejalanya

ترفيل

Wazan yang yang berakhiran watad majmu’ akan punya tambahan sabab khofif

تذييل

Wazan yang berakhiran watad majmu’ akan punya tambahan satu huruf sukun

تسبيغ

Wazan yang berakhiran sabab khoflf akan punya tambahan satu huruf sukun

9 Penyakit yang ditangani dokter Naqsh berikut gejalanya

حذف

Hilangnya sabab khofif

قطف

Hilangnya sabab khofif disertai matinya huruf kelima yang hidup

قطع

Hilangnya huruf mati dari watad majmu’ disertai matinya huruf hidup sebelumnya

بتر

Hilangnya huruf mati dari watad majmu’ dan matinya huruf hidup sebelumnya disertai hilangnya sabab khofif terlebih dulu

قصر

Hilangnya huruf mati dari sabab khofif lalu matinya huruf hidup yang sebelumnya

حذذ

Hilangnya watad majmu’

صلم

Hilangnya watad mafruq

وقف

Matinya huruf ketujuh yang hidup

كف

Hilangnya huruf ketujuh yang hidup




PULAU ‘ILAL DAN DAWAIR

Inilah perjalanan berikutnya, tahapan kedua dari perjalanan menuju 16 lautan di negeri arudl. Perjalanan yang kubayangkan akan sama situasi dengan yang kualami di pulau Zihafat. Tapi lagi-lagi, jangan terpengaruh oleh bayangan semu, itulah yang terjadi padaku di pulau ‘Ilal ini.

Semula, pulau ‘Ilal kugambarkan lebih menyedihkan dari pulau Zihafat. Ternyata? Tidak sama sekali. Pulau ini begitu indah, penduduknya berwajah cerah-cerah. Kalian tahu kenapa? Orang-orang di pulau ini tunduk pada komando seorang yang mereka anggap suci. Mereka selalu sam’an wa thoatan pada apapun yang di petuahkan oleh sang sesepuh ini, mungkin setara dengan seorang mursyid bagi kalangan pelaku tarekat.

Di pulau ini tak kudapati kesedihan pula kesenangan. Semuanya terasa biasa, menengah, gak susah yo gak bungah, sedhengan. Tak ada yang dibicarakan oleh penduduknya selain persoalan penyakit hati. Karenanya pulau ini di sebut pulau ‘ilal, Mas, urai si tukang semir sepatu di pasar yang kusinggahi.

Andai tak sedang menjalankan tugas, ingin rasanya aku bermukim disini. Berkumpul dengan mereka yang berhati soleh solehah. Ikut-ikutan menjalankan laku-laku spiritual untuk menyembuhkan borok-borok hati. Damai, tentram. Sayangnya, aku harus segera menuju 16 lautan yang kucari di negeri arudl ini.

Bilang saja pada petugas disana, saya disuruh Pak Slamet untuk minta rute berpetualang ke lautan-lautan negeri ini, ujar sang sesepuh menjelaskan bahwa 16 lautan yang aku cari harus ditempuh melewati dawair, saat aku pamit dan minta doa.

Kulangkahkan kaki menuju dawair, pusat terkumpulnya 16 lautan yang kutuju, dengan semangat menyala. Aku sudah tak sabar untuk menikmati wisata laut ini seperti tak sabarnya para pelancong yang yang hendak menuju Whitehaven Beach di Utara Pulau Whitsunday Queensland, pantai paling indah dan terkenal di benua Australia.

Tiba di dawair, petugas dengan ramah menyambutku. Semua saran dari sang sesepuh kujalankan, dan si bapak petugas pun dengan senang hati memberi panduan.

Pertama, kamu harus menuju dairoh mukhtalif, perhatikan gambar ini!

Jika kamu mulai berselancar dari perairan فعو, menuju لن, lalu ke مفا, ke عي, keلن lagi dan terus begitu samapi empat kali memutar, maka itulah laut pertama, Thowil.

Jika kamu mulai berselancar dari لن menuju مفا terus ke عي, kemudian ke لن lalu ke فعو, dan memutar empat kali maka tibalah kamu di laut kedua, Madid.

tapi jika berawal dari عي menuju لن, lalu ke فعو, ke لن dan مفا kemudian memutar empat kali maka yang kamu temukan adalah laut ketiga, Basith.

Ingat di Dairoh ini jangan coba-coba mengambil permulaan berselancar dari perairan مفا atau dari لن yang terdapat sebelum فعو. Aku tak bertanggung jawab jika kamu tersesat di laut Muhmal.

Ini dairoh kedua, Mu’talif. Jika permulaan berselancarmu dari perairan مفا menuju dua perairan lainnya sesuai tanda panah, dan memutar enam kali, maka kamu akan menemukan laut ke empat, Wafir. Jika dari عل menuju dua perairan lain searah tanda panah kemudian memutar enam kali maka yang kau temukan adalah keindahan laut Kamil.

Jangan coba-coba memulai dari perairan تن, ombaknya sangat ganas.

Dairoh ketiga bernama Mujtalab. Dari perairan مفا berselancarlah menuju عي lalu ke لن, memutar tiga kali lalu buang satu wazan dari tiap syathrnya agar kamu bisa tiba di laut Hazaj.Atau berselancarlah dari perairan عي menuju لن dan berakhir di مفا kemudian berputar tiga kali untuk menemukan laut Rojaz. Atau mulailah berselancaar dari perairan لن menuju مفا dan berakhir di عي agar tiba di laut kedelapan, Romal.

Inilah dairoh keempat, Musytabih. Jika kamu ambil start dari perairanلا menuju تن terus ke مفا, عي, لن, مفا lagi, عي, kemudian لن dan فاع berputar dua kali maka kamu akan tiba di laut Sari’. Jika memulai dari عيmenuju لن lalu مفا, lalu عي, لن, فاع, lalu لا, تن,dan مفا, maka kamu akan tiba dilaut Munsarih. Ikuti alur ini dari kanan, لن مفا عي لن فاع لا تن مفا عي maka kamu akan tiba dilaut khofif setelah memutar dua kali. Atau ikuti jalur ini dari kanan, لن مفا عي لن فاع لا تن مفا عيmemutar dua kali sambil membuang satu wazan dari tiap putarannya, maka kamu akan tiba di laut Mudlori’. Jika kamu memilih عي sebagai permulaan lalu menuju jalur ini dari kanan, لن فاع لا تن مفا عي, lalu ke لن مفا عي maka kamu akan tiba di laut Mujtats.

Hati-hatilah dairoh keempat ini terkenal dengan badai dan ombaknya yang menggunung.

Dairoh terakhir ini bernama Muttafiq. Hanya punya dua lautan dengan ombak yang sangat menyenangkan. Mulailah berselancar dari فعو menuju لن agar tiba di laut mutaqorob setelah berputar delapan kali. Jika rutenya dibalik dengan putaran tetap sama maka yang kamu temukan adalah laut mutadarik, laut bungsu di negeri arudl.

Si Bapak petugas mengakhiri panduannya padaku dengan senyum menantang, Beranikah kamu? Atau mungkin bermakna mengejek, cemen lo! Nggak berani? Pulang aja sono.

Cisetu 5 Syawal 1431H

Chikal FaZa

YAHYA NAJMA, AJIAN BAYAN GOYANG

Najma, tak usah kuguna-guna dirimu dengan mantra-mantra Mbah Kewod. Tak perlu kusihir pikiranmu dengan Hizib Maghribi yang terkenal ampuh untuk membuat wanita lulut patuh. Cukuplah dengan ini, ajian bayan goyang, aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku.

Bolehlah kau angkuh sekarang. Tapi esok, kujamin kau mabuk, linglung, lalu merangkak datang padaku dengan wajah memelas pasrah. Memang, ajian bayan goyangku cuma memiliki tiga jurus. Tapi, itu telah cukup membuat siapapun terbius. Bahkan jika mau, aku bisa membuat mereka bingung setengah mampus. Apalagi hanya untuk menaklukkan dirimu, cukuplah dengan hanya satu jurus. Sombong sekali aku. Begitulah. Terkadang sombong dibutuhkan untuk memberontak kesombongan, kepicikan, kesewenang-wenangan.

Najma, untukmu, hanya untukmu kubeberkan sihir rahasia ini. Sihir kata-kata yang akan membuatmu memandangku segagah surya, setampan purnama, seluas samudera. Maka, sambutlah tiga jurusku. Lawanlah jika kau memang mampu. Jika tidak, datanglah padaku sepenuh rindu, setulus qalbu.

JURUS PERTAMA

التشبيه



Organization Chart

Langkah Pertama

Najma, tahukah engkau apa yang terbersit dalam pikiranku saat mula dua mataku menabrak wajahmu? Cantik sekali, begitulah. Maka, mulai detik itu aku seringkali berubah menjadi kambing dungu, menggambar-gambarkan kembali sketsa wajahmu diatas kanvas khayalku. Kurangkai-rangkai kata memujamu hingga berujung pada satu pernyataan, engkau dengan kecantikanmu laksana hijaunya kebun teh di Puncak Bogor. Sejuk, menghilangkan susah hati.

Langkah Kedua






Organization Chart
Organization Chart

Najma, merah pipimu bagai bunga mawar berduri. Ingin kusentuh, tapi dengan angkuh kau menangkis, haram. Maka, kutahu dalam dadamu ada ilmu seterang cahaya. Aku pun mundur takut, takut kualat, seperti takutku saat dulu kecil dikejar-kejar anjing tetangga gara-gara kedapatan hendak maling mangga. Akhirnya, aku berikrar, demi mendapatkanmu aku harus lebih dulu pintar. Dunguku segelap malam harus kuusir dengan sinar.

Langkah Ketiga



Organization Chart

Akupun berlari menjauhimu, mengalah untuk menang, pikirku. Kucari titik-titik persamaan antara I and U, tabiatku tabiatmu, hobiku hobimu, idolaku idolamu. Andai tak kutemukaan kesamaan faktual, maka terpaksa kucari persamaan dari alam khayal. Tak masalah, pikirku, yang penting ada cara untuk nyambung.



Organization Chart

Langkah Keempat

Kudapati dirimu berpakaian santri, sepertiku, pelajar pesantren yang sedang lelah berusaha mencintai kalam terindah. Diluar itu, nyata dirimu mengidolakan para sastrawan, sama denganku. Dan lagi, ternyata kita punya pendapat sama bahwa sastrawan terhebat dunia sepanjang masa adalah nabi agung kita tercinta dengan bukti kata-katanya yang tersusun rapi dan dijadikan acuan hidup oleh sebagian besar umat manusia.

Kucari persamaan yang lain hingga akhirnya bermuara pada kata, aku hampir suka semua yang kamu suka. Bahkan tak terbatas indrawi saja, batinmu pun kuraba, adakah disana sesuatu yang bisa dijadikan sebagai jembatan kita?

Langkah Kelima



Organization Chart

Setelah semua kutelaah, fisik plus psikis mu, raga dan jiwamu, maka aku bisa menyimpulkan bahwa, engkau layak disebut gadis idaman.

Bagaimana tidak? Wajahmu secantik Salma Hayek, lawan main Antonio Banderas dalam Desperado. Sementara, sikap-sikapmu secemerlang sikap para sufi yang selalu menjaga hati. Andai boleh sedikit kugambarkan pipimu, maka ia wangi, lembut, sedap dipandang selayak mawar-mawar ditaman. Dan andai engkau Tsuroya maka lidahku tak selincah al-Juman untuk menggambarkanmu.

Saat kucuri dengar suaramu, maka hatiku tergetar oleh merdunya. Bahkan, seakan ia terus membisik hingga aku bergidik, jangan-jangan suaramu adalah pinjaman dari bidadari kahyangan. Sungguh, engkau selengkap perpaduan langkah kedua dan langkah kelima dalam jurus pertamaku.

متعدد

مركب

مفرد

مشبه و مشبه به ووجه التشبيه

عقلي

حسي

عقلي

حسي

عقلي

حسي

6

5

4

3

2

1

حسيان

12

11

10

9

8

7

عقليان

18

17

16

15

14

13

حسي وعقلي

24

23

22

21

20

19

عقلي وحسي

Bahkan ketika aku lebih meneliti keindahan fisikmu, aku semakin terlarut dalam kekaguman. Aku mabuk laut oleh mulus wal halusmu seperti terpesonanya mereka wisatawan yang berkunjung ke pulau dewata. Maka, tak bisa kuwakilkan pada kata-kata tentang keindahan hissiyyahmu, sungguh sulit meski untuk sekedar sedikit menggambarkannya, sebab mungkin kamusku tak lengkap atau mungkin juga keindahanmu yang terlampau lengkap. Karenanya, tak ada jalan bagiku selain mengagumimu lewat tabel-tabelku ini;

وجه التشبيه

مشبه ومشبه به

مركب حسي

مفردان حسيان

مركب حسي

مركبان حسيان

مركب حسي

مفرد ومركب حسيان

مركب حسي

مركب ومفرد حسيان

وجه التشبيه

مشبه ومشبه به

مركب عقلي

مفردان حسيان

مركب عقلي

مفردان عقليان

مركب عقلي

مفردان حسي وعقلي

مركب عقلي

مفردان عقلي وحسي

مركب عقلي

مركبان حسيان

مركب عقلي

مركبان عقليان

مركب عقلي

مركبان حسي وعقلي

مركب عقلي

مركبان عقلي وحسي

مركب عقلي

مفرد ومركب حسيان

مركب عقلي

مفرد ومركب عقليان

مركب عقلي

مفرد ومركب حسي وعقلي

مركب عقلي

مفرد ومركب عقلي وحسي

مركب عقلي

مركب ومفرد حسيان

مركب عقلي

مركب ومفرد عقليان

مركب عقلي

مركب ومفرد حسي وعقلي

مركب عقلي

مركب ومفرد عقلي وحسي

Langkah Keenam



Organization Chart

Banyak caraku untuk mengagumimu, Najma. Mungkin, engkau kusepertikan, kulaksanakan, kuumpamakan, kutak ubahkan, atau apapun terserah. Yang pasti, semua adalah jembatan kekaguman pada keindahan. Tak beda dengan Tasybih, ia bisa nyata saat ada kaf, mitsl, kaanna, bahkan ada pula yang tanpa apa-apa seperti kekagumanku yang satu saat tak terungkap lewat kata-kata.

Langkah Ketujuh

غرض التشبيه

Najma, lelah aku mentasybihkanmu dengan ini, dengan itu, padahal maksudku cuma satu, mendapatkan cintamu.

فان تفق الانام وانت منهم ♫ فان المسك بعض دم الغزال

Mereka yang menyanyikan tembang kamil ini pun punya tujuan sama sepertiku, memuji-muji kekasihnya, menyatakan kesungguhan kesempurnaannya meskipun tetaplah ia manusia. Tak beda dengan misik, memang ia tetaplah darah tapi tak sedarah-darahnya.

Berbeda dengan si Robert yang mencak-mencak, dasar muka kulit badak, pada si Adul saat mendapati nasinya sedang dilahap sobatnya yang hobi makan tapi enggan masak. Atau si Kriwul yang sedang lapar lalu berkata sambil nyomot serabi, oh indahmu bagai bulan tanggal empat belas.

Langkah Kedelapan



Organization Chart

Najma, bisakah kita selayak musyabbah dan musyabbah bih? Terikat dalam titik temu yang akan tautkan rindu. Kamu memang belum terlalu lama mengenalku, tapi percayalah, itu tak jadi masalah. Aku jamin engkau akan mendapati antara kita ada keserasian yang indah. Meski kita tak selalu sama mufrod atau tak selalu sama murokkab dan pula tak selalu sama muta’addid.

Langkah Kesembilan



Organization Chart

Najma, terserah padamu menerima atau menolak rasaku. Namun kuyakinkan, kadang-kadang dua hal dianggap tak bisa disatukan hanya karena belum didapati adanya kesamaan. Sebetulnya bukan tak ada. Ia ada, tapi tak tampak. Atau, ia tampak tapi masih perlu diteliti lebih jauh apakah benar ia bisa dijadikan titik temu ataukah hanya kesamaan semu.

Langkah Kesepuluh



Organization Chart

Najma, seperti tasybih, aku mungkin akan menyambungkan rasa padamu lewat perantara yang bisa dipercaya. Tapi jujur, aku lebih senang dangan gaya langsung, tak ada adat tasybih, tapi nyata ada tasybih.

Maka malam ini, setelah sekian waktu aku meneliti, tengok kanan tengok kiri, sejujurnya kunyatakan padamu bahwa engkaulah gadis pencuri. Terbukti, dilemari hati ini terdapat sidik jari yang sama dengan sidik jari yang engkau miliki. Apapun alasanmu untuk berkelit, maka aku telah menyiapkan bukti-bukti kongkrit sehingga dalihmu hanyalah dalih yang mudah terjepit. Mengakulah, kau yang mencuri hatiku bukan?



Organization Chart

Langkah Kesebelas

Semua sudah nyata, aku cinta, engkau cinta. Aku layak menjadi musyabbah bih mu dan engkaulah musyabbahku. Maka, ikrarkanlah tasybih diantara kita. Ikrarkanlah bahwa kita saling menerima, saling terikat dalam titik temu yang beraneka warna. Teriaklah pada dunia Yahya dan Najma adalah sejoli abad ini, lambang sejati bagi cinta suci. Kita berdualah yang akan mengajarkan bagaimana cara bercinta yang sesungguhnya.

Organization Chart
Penutup Jurus Pertama

Najma, biarkan cinta kita bersemi tanpa siapa pun tahu. Hanya aku muhib dan kau mahbub yang tahu bahwa di antara kita ada hubb. Tak usah ada kata, tak usah ada cerita, Allahlah saksi nyata. Biarkan cinta kita seumpamaزيد اسد yang tak kentara tasybih disana. Cukuplah kukatakan, aku kau atau kau aku tanpa ada kata cinta antara keduanya.

JURUS KEDUA

الحقيقة والمجاز

Najma, kemarin kukatakan, tak perlu guna-guna dari Mbah Kewod untuk menundukkan angkuhmu, terbukti bukan? Dengan hanya satu jurus saja, jurus tasybihku, bekumu meleleh dan angkuhmu runtuh.

Kini, tataplah mataku, tak ada majazi di sana, yang ada hanyalah haqiqat al-kalimat yang tak perlu tu’wal ta’wil ruwet. Maka bacalah huruf-huruf yang terangkai di sana. Asli, tak ada basa basi dan tak ada yang ditutup-tutupi.

Sudah kau bacakah? Apa bunyinya? Ya, MENIKAHLAH DENGANKU. Tak ada makna ganda di sana, pula tak ada isyarah yang bikin pemahaman gerah oleh susah.

Sungguh, aku tak setuju dengan pacaran. Aku suka, kau sama, maka tak perlu berlama-lama. Pacar bukanlah kekasih hakiki. Pacar hanyalah istri majazi. Dan, aku tak mau ini terjadi sebab akan mengotori diri.



Organization Chart

Langkah Kesatu

Tak usah ada satir yang membuat makna satu kata menjadi terpelintir. Kata NIKAH yang kau lihat dalam tatap mataku bisa kau artikan dengan pilihan empat, dan semuanya hakikat. Terserah yang mana, tapi jika kau ingin tahu makna apa yang kuuinginkan, maka itu adalah NIKAH versi syara’, bukan yang lain.



Organization Chart

Langkah Kedua

Najma, ingin aku lari saat mendengar jawaban Abahmu, bukan apa-apa, jawaban itu seolah pisau yang mengiris hatiku, perih tak terkira, perih itulah yang menjadi penyebabnya. Tapi, entah kenapa, kaki ini berat kuangkat. Ia enggan minggat dan bertahan kuat-kuat. Seakan dengan optimis ia berkata jangan pergi dulu, jawaban itu tak berarti engkau di tolak.

“Lalu bagaimana?” tanyaku.

“tenanglah, kita jalani dulu sambil menunggu waktu”, jawabmu.

“Pacaran?” tanyaku dengan nada tak setuju.

“Bagaimana lagi? Kita terpaksa jadi pasutri majazi, atau kamu boleh pergi dan aku terluka disini.”

Lama aku diam, lalu entah kenapa bibirku seakan tak sadar berurai, “Najma, bukankah aku pernah bilang, aku kau atau kau aku tanpa ada kata cinta atau apapun ditengah keduanya. Maka inilah saat pembuktian ucapan itu. Aku kau, maka melukaimu juga melukaiku. Kau aku, maka senyumku senyummu.”

Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, pepatah inilah yang terpaksa kita gunakan sementara untuk menjaga aku kau kita, meski tetap tak bisa menghilangkan luka. Cuma aku minta, rubahlah konotasi negatif dari kata ini. Aku memacarimu dengan ilmu, bukan dengan rayu palsu. Maka cintailah ilmu untuk menjadikan aku pacarmu.

Lihatlah, pena kita harus tetap meneteskan tinta. Bibir kita harus tetap menggetarkan ayat-ayatNya penuh cinta. Sehingga, kau akan melihat cahayaku, aku akan melihat cahayamu, kita akan tetap dituntun oleh cahayaNya.

Langkah Ketiga



Organization Chart

Tak usah ada smsan, telpon-telponan apalagi ketemuan. Tak perlu, itu hanya membuat kapal kita mandek mengarungi ilmu. Laut yang kita arungi semakin berombak dan itu tak bisa kita jelajahi jika jiwa bermental pekat selayak penjahat.

Biarlah kita saja yang tahu bahwa sebetulnya kita sedang bercinta, bercumbu mesra, berpacaran layaknya remaja buta. Meski mereka yakin bahwa antara kita tak ada apa-apa. Ya, lewat tetes-tetes tinta, kubuktikan bahwa antara kita sedang tumbuh tunas-tunas cinta.



Organization Chart

Langkah Keempat

Sungguh, jika ini bisa lakukan, berpacaran dalam ilmu pengetahuan, maka kita bisa tetap hidup dalam kematian, jika tidak, maka kita telah mati dalam kehidupan.



Organization Chart

Langkah Kelima

Jangan heran, memang ini pacaran langka. Meski langka janganlah kau vonis tiada. Tak beda dengan nyanyian kamil ini,واذا احتبي قربوسه بعنانه ♫ علك الشكيم الي انصراف الزائر , menyimpan isti’arah yang langka.

Langkah Keenam

الجامع

المستعار منه والمستعار له

الحسي و العقلي

العقلي

الحسي

حسيان

العقلي

عقليان

العقلي

حسي وعقلي

العقلي

عقلي وحسي



Asyik bukan berpacaran denganku? tak ada pelanggaran terhadap rambu-rambu. Seperti tabel ini, ketika kita berdua sama bersifat indrawi, maka pengikat kita tak selalu indrawi, bisa aqli bahkan campuran keduanya, aqli dan indrawi. Namun ketika kita sama-sama aqli atau salah satu dari kita aqli maka tak ada pengikat yang kuat selain juga sesuatu yang bersifat aqli.



Organization Chart

Langkah Ketujuh

Najma, Teriakkan dalam hatimu, Yahyalah Romeoku. Maka lihatlah, pepohonan yang sejak tadi menonton adegan-adegan kita riuh bertepuk tangan. Seakan mereka adalah Bobotoh PERSIB atau Bonek PERSEBAYA atau mungkin Snek PSIS. Dan, saat aku teriak, engkaulah Lailaku seperti dulu Qais berteriak, maka semut-semut dikamarku ini telah rapi berbaris untuk memberi kesaksian. Mirip dengan para pelayat jenazah yang bersiap-siap menjawab, khoir khoir khoir saat ada komando, isyhadu anna hadza al-mait min ahli al-khair

Langkah Kedelapan



Organization Chart

Aku harap, pepohonan yang tadi menyaksikan pernyataan dalam teriakanmu segera menghadap abahmu, melapor kepadanya tentang semua yang ia saksikan. Begitu pun semut-semut Bobotohku,semut-semut Bonekku,semut-semut Snekku, semoga segera berangkat mengangkat spanduk menuju masjid abahku, memohon kepada mereka dengan membentangkan tulisan besar-besar pada spanduk yang mereka angkat, RESTUILAH YAHYA DAN NAJMA.

Langkah Kesembilan



Organization Chart

Jelas sudah apa yang ada dalam benakku, sejelas tashrihiyah yang tuturkan Musta’ar minhu dalam istiarahnya, meski aku menyatakannya dari balik satir, selayak makniyyah yang enggan kentara bahwa pada dirinya terkandung istia’arah.

Lalu,apalagi sebetulnya yang mereka tunggu? Tegakah mereka membiarkanku terjerembab dalam khayal sebagaimana si Makniyyah yang tak bisa lepas dari si Takhyiliyyah?



Organization Chart

Langkah Kesepuluh

Najma, disini aku termangu menunggu restu. Ikatan kita tak mungkin terrealisasikan tanpa itu,restu abahmu, pula restu abahku. Dalam cemas aku berharap semoga tak ada kesedihan menimpa kita seperti tergambar muram dalam nyanyian ini,

هواي مع الركب اليمانين مصعد ♫ جنيب وجثماني بمكة موثق

Dalam cemas aku berdo’a, ya Allah jauhkan الصيف ضيعت اللبن andai engkau memperkenankan kami untuk menjadi satu jiwaraga.

Penutup Jurus Kedua

Najma, tutupilah cinta kita dari tatapan mereka. Sebesar apapun rasa yang tersimpan dalam dada biarlah ia terselimut ketulusan. Sungguh, itu lebih baik. Bahkan semakin tersembunyi, samakin tak diketahui, ia akan semakin abadi dan bernilai tinggi.

Lihat bukankahرايت اسدا له لبد اظفاره لم تقلم lebih bermutu saat menggambarkan kegagahan seseorang daripada رايت اسداapalagiرايت اسدا شاكي السلاح

Percayalah, dengan tersembunyi, cinta kita takkan pernah berubah, tidak berkurang juga tidak bertambah. Sesuatu yang berkurang maka tak sempurna. Sementara, sesuatu yang bertambah berarti belum sempurna. Berbeda dengan majaz bi al-ziyaadah atau pun majaz bi al-naqs yang justru sempurna setelah ada ziyadah atau nuqsonnya

JURUS KETIGA

الكناية

Najma, jurus pertamaku telah sanggup merobohkan angkuhmu. Terbukti, kau menyerah kalah dengan mengaku bahwa dihatimu ada tersimpan cinta untukku. Lalu, jurus keduaku telah membuatmu lulut, penurut. Terbukti, apapun yang kuucapkan, maka kau selalu ikut. Kendati demikian, ternyata dua jurus ini tak begitu ampuh menundukkan abahmu apalagi abahku, sehingga, mereka masih saja menutup telapak tangan mereka untuk kita. Maka, inilah jurus pamungkas dari ajian bayan goyangku yang harus kita lakukan bersama-sama agar kunci rapat mereka bisa kita buka tanpa ada bongkar paksa.

Andai ini tetap tak berhasil, maka jangan anggap jurus pamungkas ini lumpuh. Tidak. Ia tetap ampuh asalkan tak melawan takdir yang tela kukuh. Sebab, sehebat apapun usaha kitauntuk merealisasikan keinginan, kita tak akan mampu untuk menentukan pasti seperti apa hasil akhir pencapaian, berhasil ataukah nihil?



Organization Chart

Langkah Kesatu

Najma, aku tahu engkau tak bisa berkutik dihadapan abahmu, seperti pula engkau tahu bahwa aku pun begitu dihadapan abahku. Maka tak ada jalan selain diam, sembunyi dibalik malam untuk menunggu surya datang mengusir kelam.

Tak usah kita suudzzon pada mereka. Kita harus tetap bersikap selayak biasa meski dada sesak oleh mathlub yang tak terlaksana. Kau ingin, aku pun begitu. Kau ingin cinta padu, aku pun begitu. Kau ingin cinta padu bersamaku, aku pun begitu.

Tapi, biarlah. Simpan semuanya dalam diam seperti rapinya kinayah menyembunyikan tujuan kalam. Aku yakin, jika kita bisa menirunya, maka tak akan ada yang terluka. Kita atau mereka, antara kita, atau antara kita dengan mereka. Semua akan baik-baik saja.

Bukankah طويل النجاد senang-senang saja di artikan dengan maknanya sendiri padahal didadanya tersimpan keinginanطول القامة ? Bukankah si عريض القفا tetap tersenyum ketika diartikan dengan maknanya sendiri, padahal dihatinya terbersit gairah menggoda dari si البلادة?Bukankah si مضياف juga tak jadi susah hanya karena si الجواد tak bisa ia dapatkan?



Organization Chart

Langkah Kedua

Najma, tak ada jalan terbaik untuk mencapai keinginan selain dengan kelembutan budi. Sesuatu yang keras jangan dilawan dengan kekerasan, fatal. Sesuatu yang kukuh jangan dihantam dengan kekukuhan. Fatal. Semakin ia keras, maka kita harus semakin lembut menghadapinya. Biar tak ada yang rusak. Lihatlah si Kinayah, bertingkat-tingkat kelembutannya.

Bukankah kedipan mataku padamu lebih berkesan daripada harus terucap I love you? Bukankah salah tingkahku saat dihadapanmu lebih berkesan daripada aku berani-beraninya mengedipkan mata sebagai isyarat rasa? Bukankah begitu?



Organization Chart

Penutup Tiga Jurus

Najma, pepatah bilang, tak ada gading yang tak retak. Maka, sadarilah bahwa

siapa pun yang nanti menyandingmu di pelaminan biru tidaklah sesempurna nabi. Aku atau siapapun, maka terimalah dengan lapang dada. Memang, siapa sih yang tak senang bersanding dengan dambaan, pujaan dan pujian? Tapi siapa pula yang mampu menghapus apalagi merubah tinta takdir yang telah kering?

Karenanya, tak ada alasan untuk kita untuk terluka ketika nyata tak bisa bersama. Aku harus legowo, dan kau pun harus nrimo. Meski demikian, percayalah, apapun ending dari cerita cinta kita, niscaya ia akan tetap dikenang oleh dunia sebagai cinta hati anugerah ilahi.

Dan malam ini, berdoalah bersamaku, jika Allah menghendaki maka semoga kita bisa tinggal diبيتي جنتي , sebagaimana rumah tangga nabi. Amin.

Cisetu, Ahad 3 syawal 1431H

Chikal FaZa